TEKNIK KONSERVASI TANAH DENGAN RORAK PADA LAHAN PERTANIAN
01 Juni 2021

TEKNIK KONSERVASI TANAH DENGAN RORAK
PADA LAHAN PERTANIAN

Oleh: Lilian Safitri
Calon Widyaiswara Ahli Pertama Balai Pelatihan Pertanian Jambi

Provinsi Jambi merupakan salah satu provinsi dengan sebaran lahan pertanian yang cukup luas. Umumnya lahan lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kopi, dan pinang. Tingginya pendapatan dan minat masyarakat tani tersebut maka sangat dibutuhkan ketelitian baik dalam pengaplikasian pupuk, pemeliharaan tanaman, maupun pemilihan tanah pada saat membeli lahan.
Curah hujan yang sering berubah terutama akibat perubahan iklim mengakibatkan banyak lahan pertanian yang mengalami kekeringan pada musim kemarau maupun banjir pada musim hujan. Sebagian lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk budidaya tanaman perkebunan ada yang tidak menanam sesuai dengan kontur di lapangan. Hal ini mengakibatkan tanaman yang ditanam sering mengalami longsor pada musim hujan. Longsor umumnya disebabkan karena banyaknya air masuk ke dalam tanah sedangkan pada saat kejadian, tanah tidak dapat menahan air. Ada beberapa hal yang menyebabkan kejadian tersebut, tekstur tanah yang lebih banyak pasir, struktur tanah liat, ataupun perakaran tanaman yang tidak mampu menangkap air jatuh ke dalam tanah.
Salah satu cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan membuat rorak. Rorak merupakan lubang-lubang buntu yang dibuat dengan ukuran tertentu dan dibuat pada bidang yang sejajar dengan kontur pada bidang olah. Rorak berfungsi untuk menjebak dan meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimen-sedimen. Rorak ini juga bisa dimanfaatkan sebagai seumber kompos dengan menambahkan bahan-bahan organik yang mudah melapuk.
Efektivitas aplikasi rorak cukup tinggi dalam menekan terjadinya erosi hingga 71% dimana tergantung struktur tanah dan kondisi penutup tanah. Selain itu juga tergantung pada semakin pendeknya jarak aplikasi rorak denga  lereng maka akan semakin efektif dalam menekan erosi dan aliran permukaan serta dapat meningkatkan kadar air tanah (Monde, 2010; Brata, 1998; Murtilaksono et al., 2008). Rorak yang dibuat biasanya tidak menggunakan biaya yang mahal sehingga dapat diterapkan di lahan pertanian baik yang ditanami dengan tanaman perkebunan, pangan, dan hortikultura.
Dampak Aliran Permukaan Terhadap Ketersediaan Hara Tanah
Kondisi tanah menentukan ketersediaan hara di dalam tanah. Unsur hara tersedia pada tanah yang subur dengan seimbangnya sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Pada saat terjadi aliran permukaan yang cepat dan menyebabkan erosi, hara tanah juga ikut terbawa bersamaan dengan sedimen tanah. Ada beberapa kerusakan yang diakibatkan oleh erosi yang tinggi pada lahan pertanian, diantaranya:

  1. Hancurnya agregat tanah
  2. Tanah dan lahan terdegradasi
  3. Tanah mudah jenuh oleh air
  4. Tanah kehilangan hara dan bahan organic
  5. Kurangnya kemampuan tanah mengikat hara sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu besarnya erosi yang terjadi di lahan pertanian, diantaranya:

  1. Tanah berlereng dan cukup curam
  2. Tanaman yang ditanam jaraknya tidak rapat
  3. Curah hujan yang tinggi sehingga struktur tanah menjadi pecah
  4. Kegiatan pengolahan tanah yang tidak tepat
  5. Tidak menerapkan kaedah konservasi tanah dan air

Teknik Konservasi Tanah Dengan Membuat Rorak
Rorak merupakan tempat/lubang ataupun peresapan air yang dibuat pada bidang olah atau saluran peresapan (Dariah et al., 2004). Pada lahan kering, pembuatan rorak ditujukan untuk pemanen air hujan dan aliran permukaan. Pembuatan rorak yang merupakan upaya konservasi air adalah untuk menampung air dan meresapkannya ke dalam tanah serta dimaksudkan untuk mengurangi aliran permukaan dan menampung sedimen/endapan akibat proses erosi serta menyediakan air tanah yang dibuat pada lahan dengan kemiringan > 8% (Gambar).

Menurut Arsyad (2006) dimensi rorak yang disarankan adalah 60 cm dengan lebar 50 cm dan panjang sekitar 400 -  500 cm. Panjang rorak ini dibuat sejajar ataupun memotong lereng, dengan jarak ke samping antar satu rorak antara 100 – 150 cm sedangkan jarak horizontalnya sekital 20 m (pada lereng landai – agak miring) dan 10 m untuk lereng yang lebih curam. Agus et al., (1999) menyatakan bahwa umumnya rorak mempunyai panjang 100 – 200 cm dan lebar 25 – 50 cm dengan kedalaman hingga 20 – 30 cm.
Pembuatan rorak relative sangat murah dan dapat dibuat dalam jumlah yang banyak. Biasanya untuk 1 hektar lahan dapat mencapai 150 – 250 rorak. Selain itu, pemeliharaannya juga sangat mudah, dimana pada saat rorak sudah terisi sedimen, maka harus digali, namun juga dapat digunakan sebagai sumber bahan organic tanah dengan memasukkan sisa-sisa tanaman sekitar untuk dijadikan kompos.

Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan rorak di bidang pertanian
a.Persiapan Lapangan

  1. Pengukuran kembali
  2. Pematokan tanda letak rorak

b.Pembuatan Rorak

  1. Rorak-rorak dibuat di antara tanaman pokok (tanaman semusim/tahunan/keras).
  2. Bentuk rorak dapat berupa lubang-lubang biasa (dangkal atau dalam) atau berupa saluran buntu.
  3. Ukuran rorak (lebar dan dalamnya) disesuaikan dengan curah hujan, jenis tanaman dan keperluannya namun dengan kedalaman 40-60 cm.
  4. Rorak juga berfungsi juga seperti sumur peresapan. Menurut Brata (2004) untuk menghindari genangan berkepanjangan pada rorak maka disarankan membuat lubang tambahan hingga kedalaman lapisan padas.
  5. Rorak dapat diisi dengan sampah organik (sumber kompos)

c. Pemeliharaan
Dalam pemeliharaan rorak, yang dapat dilakukan yaitu memindahkan endapan pada rorak ke bidang olah.
Menurut Dariah et al., (2004) rorak yang dibuat sebanyak 200 buah/hektar dengan volume 1 m3 maka dapat menampung air sekitar 200 m3/hektar atau setara dengan 20 mm air hujan. Jumlah aliran permukaan yang dapat dikendalikan akan lebih besar lagi jika diperhitungkan laju infiltrasi, evaporasi, dan proses lainnya yang mempengaruhi besarnya aliran permukaan tanah. Hasil penelitian dari Noeralam (2002) bahwa rorak yang dikombinasikan dengan mulsa secara vertical dapat mengurangi erosi sebesar 94% terutama pada lahan yang agak curam dengan kemiringan 10-25%. Rorak ini juga dapat dijadikan sebagai sumber air di lahan pertanian terutama yang dijadikan sumur resapan.

Kesimpulan
Ide ini juga bisa diterapkan di lahan pertanian dengan tujuan agar air tersedia bagi tanaman yaitu dengan membuat lubang sedalam 40-60 cm terutama pada wilayah berlereng (dibuat selang-seling). Lubang yang dibuat tersebut diisi dengan gulma yang dapat dimanfaatkan untuk kompos (rorak/saluran buntu). Rorak dapat dijadikan sebagai sumber bahan organik terutama dalam pemanfaatan serasah tanaman. Selain itu juga dapat dijadikan sebagai sumur biopori dengan daya tampung yang lebih banyak yaitu hingg 20 mm hujan untuk luasan 1 hektar.

Referensi
Agus, F., A. Abdurachman., A. Rachman., S.H. Tala’ohu, A. Dariah., B. R. Prawiradiputra., B. Hafif., dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendalian Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat: Jakarta.
Arsyad, S., 2006, Konservasi Tanah dan Air, Edisi Pertama. Bogor (ID) : IPB Pr.
Brata, K. R. 1998. Pemanfaatan jerami padi sebagai mulsa vertikal untuk pengendalian aliran permukaan dan erosi serta kehilangan unsur hara dari pertanian lahan kering. J. Ilmu Tanah dan Lingkungan. 1(1): 21-27.
Brata, K. R. 2004. Modifikasi Sistem Micro catchment Untuk Konservasi Tanah dan Air Pada Pertanian Lahan Kering. Makalah disampaikan pada Kolokium Hasil Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air. Bandung, 5-6 Oktober
Dariah, A., Haryati, U., dan Budysastoro, T. 2004. Teknologi Konservasi Tanah Mekanik. http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita-terbaru-topmenu-58/618-teknologi-konservasi-tanah-mekanik.
Monde, A. 2010. Pengendalian aliran permukaan dan erosi pada lahan berbasis kakao di DAS Gumbasa, Sulawesi Tengah. Jurnal Agrotek Universitas Tadulako Palu. 3(2): 131-136.
Murtilaksono, E. S. Sutarta, H. H. Siregar, W. Darmosarkoro dan Y. Hidayat. 2008. Penerapan Teknik Konservasi Tanah dan Air dalam Upaya Penekanan Aliran Permukaan dan Erosi di Kebun Kelapa Sawit. In: K. Murtilaksono, F. Agus, S.D. Tarigan, A. Dariah, N.L. Nurida, H. Santoso, N. Sinukaban, A. N. Gintings (Eds). Prosiding Seminar dan Kongres Nasional MKTI VI, Bogor. 17-18 Desember, pp. 165-172.
Noeralam, A., 2002, Teknik Pemanenan Air yang Efektif dalam Pengelolaan Tanah pada Usaha Tani Lahan Kering [Disertasi]: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 70/Menhut-II/2008 Tentang Pedoman Teknis Rehabilitasi Hutan Dan Lahan.